Goodbye

Selain hanya bisa diam. Aku bisa apa?
Aku sekarang sudah lupa.
Selamat tinggal. Kamu.
Iya, kamu. Kini aku ingin pergi dan menghapus semua tentangmu.
Lelah. Sungguh. Aku memang benar - benar lelah.
Aku tidak bisa menahan rasa ini lagi.
Kemudian, aku akan mencari kesibukan.
Seakan aku sudah bisa tidak untuk mengingatmu lagi. Aku mengatakannya.
Dengan keyakinan ini aku melangkah.
Menyusuri hari. Melihat arah angin yang entah kemana pergi.
Ribuan bintang. Sinarnya yang akan mengarahkanku.
Menuju bahagia. Selamat tinggal sepi. Aku rasa bahagia itu perlu.
Aku menginginkannya. Untuk diriku sendiri. Aku menangis.
Air mata yang jatuh. Bukan karena mu. Tapi karena untuk aku.
Aku yang malang. Selamat tinggal air mata.
Butiranmu hanya akan menjadi sisa. Sisa yang tak akan tumpah atau menjadi air mata.
Selamat tinggal kamu. Tentu, kamu yang selalu muncul dalam imajinasiku.
Ketika Harapan itu Harus Aku Musnahkan

Mungkinkah? Aku sudah mencoba ribuan kali. Tapi aku selalu gagal. Sejak lama aku ingin menyerah. Namun, aku hanya mengenalmu sebagai sosok laki-laki yang aku suka. Semakin aku ingin melupakan semua tentangmu. Harapan-harapan itu muncul. Sekarang, kamu sudah memiliki seseorang yang kamu suka. Lantas aku bisa apa? Aku hanya bisa memendam rasa sakit yang amat dalam. Ketika aku mencoba untuk mengubur harapan itu, semakin jelas apa keinginan hati ini. Menulis semua ini butuh keberanian karena ini semua mengingatkanku akan dirimu. Entah apa yang aku suka darimu. Jelasnya, aku tulus. Dengan berbagai pertimbangan dari sahabat-sahabatku, mereka bilang aku harus mencari penggantimu..., tak bisakah aku tinggal barang sejenak? tak bisakah aku diam saja walau hanya menatapmu. Luka ini hanya bisa aku pendam. Bagaimana mungkin orang-orang bisa bilang padaku untuk melupakanmu padahal kamulah harapan terindahku. Kamulah impianku. Aku tidak setuju dengan mereka. Aku tidak menginginkannya. Sungguh. 

Suatu saat cobalah melihatku disini. Lihatlah lebih pantas siapa antara aku atau dia yang kamu suka. Ahhh gilanya aku. Kepedihan ini membawaku pada jurang kebencian. Aku benci diriku sendiri. Aku benci karena aku tidak bisa melupakanmu. Aku ingin kamu tau, bahwa sampai kapan pun aku tetap menunggu. Masih. Dan akan terus seperti ini.